Terima Kasih Mass Market, Mas Slamet, Mas No dan Mas-mas Penjual yang Lain

“ Udahan dulu, yaa ngobrolnya. Gue mau belanja sayuran buat masak ntar malem, nih !”

Yahhh …padahal kami ngobrol lagi asik-asiknya tuh dan harus distop karena teman saya mau belanja. Kalau sudah begini, saya bersyukur banget hidup di Indonesia. Mau belanja sayuran ? aiihhhh… gak perlu dong tiap hari ke pasar, kan ada tukang sayur tiap hari datang. Sementara di rumah teman saya itu nggak bakalan ada tukang sayur lewat, dan nggak bakalan tukang-tukang yang lain lewat di depan rumahnya. Nggak ada kan kita pernah lihat di foto-foto ada tukang sayur atau tukang sol sepatu muter-muter kompleks perumahan di Belanda ?

Waktu saya kecil, di rumah ibu saya ada tukang sayur yang tiap hari selalu berhenti di depan rumah. Dia nggak perlu pakai teriak-teriak sayuurr …sayuurrr … ibu-ibu sudah pada berdatangan ke gerobaknya. Nah, di situ deh para ibu saling bersosialisasi dalam waktu sesingkat-singkatnya,  sharing kebingungan mau masak apa hari ini, mau belanja apa sembari juga lirik duit di dompet ada berapa 😀 Dan si tukang sayur , Mas Slamet dengan sabar melayani ibu-ibu yang kadang-kadang pingin duluan dilayani padahal datangnya belakangan.

Satu hal yang saya kagum banget sama Mas Slamet adalah kecepatannya dalam menghitung ! Dia nggak bawa kalkulator, apalagi HP yang ada aplikasi kalkulatornya belum ada jaman itu, tapi dia bisa menghitung jumlah belanjaan ibu-ibu dengan cepat, tentu saja menghitung kembaliannya juga cepat, ya…

Ibu-ibu di sekitar rumah saya begitu bergantung dengan Mas Slamet. Sehari saja dia tidak datang, pada resah deh. Ngalah-ngalahin resahnya kalau suaminya pulang kantor kemalaman … ha ..ha .. Gimana nggak resah karena kalau Mas Slamet tidak ada, ibu-ibu harus jalan jauh menuju pasar terdekat yang jaraknya sekitar 2 kilometer dari kompleks rumah saya. Aduuhh .. cape dong. Apalagi kalau tiap hari. Sampai rumah sudah capai duluan, malah mampir ke tukang pijit, nggak jadi masak.

Jadi Mas Slamet ini benar-benar pahlawan ibu-ibu kompleks. Ibu-ibu bisa mengoptimalkan waktu sehingga dapat mengurus rumah tangga dengan sebaik-baiknya. Dan sebenarnya bukan Mas Slamet aja lho yang berjasa. Semua tukang jualan yang menjemput bola lewat di depan rumah kita jelas-jelas sangat berjasa membantu kita memperoleh barang atau jasa dalam waktu yang cepat. Dan bagusnya pula, mereka punya jadual waktu kapan ada di depan rumah kita.

Seperti Mas Slamet muncul pukul 09.00 , jadi ibu-ibu masih ada banyak waktu untuk mempersiapkan makan siang. Kalau lagi males masak , nanti jam 13.00 ada tukang bakso Mas Semin (Alm) yang lewat. Oya, saya musti bilang kalau Mas Semin Alm ini kalau jualan pasti enak-enak banget. . Awalnya dia jualan bakso dan bakso dagangan dia itu adalah bakso terenak yang pernah ada di planet ini . Karena ternyata modal jualan bakso lebih besar daripada jualan mie ayam, dia lalu beralih jualan mie ayam. Yaa ampuun mie ayam Mas Semin itu juaraa banget. Sayangnya dia sudah meninggal. Kami, para pelanggannya sangat kehilangan. Sama juga waktu tukang roti Lauw yang tiap pagi keliling kompleks meninggal. Kami kehilangan bapak tua itu dan sekarang digantikan oleh anaknya.

Kalau sorean dikit munculah tukang siomay, tukang bakwan malang, tukang tape, tukang cendol , tukang sol sepatu ayaya…banyaknya tukang-tukang yang berseliweran di depan rumah kita. Bahagianya kita kalau mau apa-apa tinggal tunggu jadual tayang mereka masing-masing. Dan malampun masih dimeriahkan dengan datangnya tukang nasi goreng dan bandrek. What a life !! Indonesia is heaven !!

DSC01191

Selain mas mas yang saya sebut itu, ada juga tukang patri. Anak-anak jaman sekarang pasti nggak ngerti  tukang patri itu apa kerjanya. Jadi mereka keliling perumahan dengan membawa alat patri atau alat las. Ibu-ibu yang punya panci bocor bisa minta tolong tukang patri untuk menambal panci ! Jadi panci panci bocor masih bisa dimanfaatkan sebelum kebocornya sudah tidak bisa diakomodir lagi, ya jadi pot bunga deh. Berjasa banget kan mereka.

Setelah saya pindah rumah saya tidak perlu cemas masalah persayuran karena di depan rumah saya tiap paginya para tukang sayur mangkal. Maklumlah rumah saya pas pertigaan dan perbatasan antara kompleks dan perumahan warga asli. Masa-masa dengan Mas Slamet dahulu telah lewat, sekarang diganti oleh tukang sayur yang lain yang jadi langganan saya sekarang, yaitu Mas No. Saya nggak tau yaa kepanjangan apa ‘No’-nya itu. Tarno, Warno, Wagiyo … terserahlah, yang pasti Mas No ini sama baiknya dengan Mas Slamet. Saya nggak ngerti ya kenapa tukang sayur itu begitu sabar, apalagi menghadapi ibu-ibu yang doyan nawar sampai titik darah penghabisan. Sabaar aja dia menanggapi para ibu.

Mungkin ini yang namanya teknik marketing menghadapi pelanggan. Mereka tidak pakai teori-teori marketing, tapi semua berdasarkan pengalaman. Ya kalau yang jualannya jutek, males juga belanja sama dia. Mas Slamet, Mas No dan mas mas yang lain menjalankan profesi mereka dengan sepenuh hati, mengalir begitu saja. Mereka tidak perduli dengan berbagai istilah ilmiah yang disematkan sebagai label mereka. Yang penting dagangan laku, mas !

Dari sekian banyak istilah-istilah jenis-jenis marketing seperti Telemarketing, Viral Marketing, Word of Mouth (WOM), New Wave Marketing, Niche Marketing, B to B marketing dan lain-lain masih banyak lagi, apa yang mas-mas lakukan itu masuk di kategori Mass Marketing. Mass Marketing merupakan salah satu cara atau jenis pemasaran dengan pasar yang luas atau target pasar untuk masyarakat luas dan sesuai dengan segmentasi.

Mass Marketing adalah tulang punggung perekonomian yang sangat membantu menekan inflasi. Para mas mas (dan mbak mbak) pelaku mass marketing tidak menyadari kekuatan terpedam mereka. Segala bentuk terima kasih kita kepada mereka atas apa yang telah mereka berikan kemudahan kepada kita adalah bagaimana kita bisa membantu memberdayakan potensi yang ada.

Salah satu perusahaan yang concern mengenai mass marketing adalah BTPN atau PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk. BTPN secara konsisten mempunyai program-program untuk memberdayakan mass market yang berkelanjutan dan terukur.

PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) adalah bank publik non-devisa terbesar di Indonesia yang memiliki visi “menjadi bank mass market terbaik, mengubah hidup berjuta rakyat Indonesia. Sejalan dengan visinya, fokus usaha BTPN adalah di pangsa pasar mass market, yaitu dengan melayani segmen bawah dari piramida pasar yang terdiri dari pensiunan, usaha mikro & kecil, dan komunitas pra-sejahtera produktif, melalui lebih dari 1.200 jaringan kantor yang tersebar dari Aceh hingga Papua.

Model bisnis BTPN mengintegrasikan misi sosial dan misi bisnis dalam produk dan layanan serta kegiatan sehari-hari, atau yang disebut dengan ”Do Good Do Well”, yang dalam konteks Indonesia disebut sebagai ”Peluang Sekaligus Panggilan”. BTPN meyakini keterlibatan aktif dalam membangun lingkungan nasabah, akan berdampak positif terhadap pertumbuhan kapasitas nasabah sekaligus juga meningkatkan pertumbuhan kinerja BTPN.

Nah, berikut ini adalah link simulasi jika kita menabung di BTPN. http://www.menabunguntukmemberdayakan.com/ . Kan sering ada pertanyaan kalau kita nabung (misalkan) Rp 500.000 per bulan, berapa tabungan kita setelah 1 tahun ? Kalau mau hitung-hitung sendiri bisa juga sih, tapi simulasi tabungan di BTPN ini lumayan bisa dicoba. Setidaknya bisa memotivasi kita untuk menabung sesuai dengan rencana kita 1 tahun, 2 tahun atau berapa tahun ke depan kita dapat mengumpulkan dana.

clip_image001

Setelah masuk ke link yang saya tulis tadi, kita bisa mengisi berapa banyak uang yang mau kita tabung dan dalam berapa lama.

 

clip_image004clip_image007

Memberdayakan mass market merupakan panggilan bagi BTPN. Melalui program-program Daya, BTPN berkomitmen untuk terus membangun kapasitas nasabah secara berkelanjutan, guna memberikan kesempatan tumbuh dan mendapatkan peluang untuk hidup yang lebih baik.

Jadi menabung di BTPN bukan hanya kita menyimpan uang di sana. Dengan tiga pilar utama “Daya” yang terdiri dari program dan kegiatan dengan fokus bidang: Daya Sehat Sejahtera (Kesehatan), Daya Tumbuh Usaha (Pengembangan Usaha), dan Daya Tumbuh Komunitas (Komunitas), BTPN berkomitmen menciptakan perubahan yang lebih baik bagi nasabah, karyawan dan masyarakat luas.

Dengan bantuan dari lembaga yang kompeten, para pelaku mass market, para mas mas dan mbak mbak yang membantu kita membuat hidup kita lebih mudah, dapat meningkat kualitas hidup mereka.

Mas No, tukang sayur yang baik ini mungkin dapat meningkatkan potensi dirinya. Salah satunya, saya suka kepikiran para tukang sayur ini bisa bekerja sama dengan catering atau usaha makanan lainnya untuk menyediakan bahan masakan dalam jumlah besar. Jika hal tersebut dilakukan secara kontinyu tentu saja senyum Mas No ini bisa semakin lama semakin lebar.

Terima kasih Mas No dan mas-mas penjual lainnya. Semoga sukses dan berkah selalu usahanya.

DSC01243

 

 

Tulisan ini untuk diikutsertakan dalam Lomba Penulisan Blog Terima Kasih Mass Market yang diadakan oleh BTPN.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s