Master Wok, The Fire is On !

Hmm.. sepertinya ini kebiasaan saya ya, untuk cerita masa lalu sebagai background. Mudah-mudahan tidak pada bosan, yaa …

Perkenalan saya dengan masakan Cina untuk pertama kali agak susah diselusuri. Yang mengendap lama di dalam otak saya sampai sekarang adalah ketika saya masih sangat kecil, kalau pergi-pergi masih pakai kaos kaki berenda sampai lutut dan memakai sepatu berkancing jepret.

Jadi, dahulu saya punya Pakde yang rumahnya di Karet. Sekarang dia tetap Pakde saya, cuma tinggalnya sudah bukan di sana lagi. Suasana Karet jaman sekarang tentunya beda dengan waktu itu. Yang jelas pekuburan Karet Bivak sudah ada. Kalau main ke rumah Pakde, saya kerap diajak main-main di kompleks pekuburan. Ha..main kok di kuburan ? Tapi memang tempat lapang yang rumputnya tertata rapi ya di kuburan. Biasanya saya beserta para sepupu mendatangi makam Ismail Marjuki dan Bing Slamet. Sebelumnya kami petik bunga atau mengambili taburan kelopak-kelopak bunga mawar di makam seseorang, lalu menebarkannya di makam Ismail Marjuki.

Hadirin kenal kan Ismail Marjuki ?? .. Kalau yang biasa nonton film atau ke planetarium di TIM, pasti tau TIM itu singkatan dari Taman Ismail Marjuki. Orangnya pernah ada, seorang seniman hebat dari Betawi. Meskipun sudah menginggal dari tahun 1958 tapi karya-karyanya masih sering dinyanyikan orang sampai sekarang. Dialah yang ngarang lagu Rayuan Pulau Kelapa yang selalu kita dengar pada akhir acara TVRI, jaman dulu yaa … nggak tau sekarang. Bing Slamet ? Siapa kenal ?

Selain ke kompleks pekuburan, kerap saya diajak Pakde untuk menyambangi teman-temannya yang rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah beliau. Salah satu teman Pakde saya adalah keluarga Cina yang memiliki halaman rumah yang luas.

Mungkin sekarang tidak bisa kita jumpai di Jakarta rumah berpagar bambu tanpa pintu pagar, dengan halaman tanah merah yang padat lalu di sisi sebelah kiri-kanannya diberi barisan pot bunga kamboja atau tanaman lain. Selain itu halaman juga ditumbuhi pohon besar seperti rambutan, nangka, mangga, jambu atau durian. Di ujung halaman ada rumah kayu sederhana. Pemandangan film-film tahun tujuhpuluhan ini mirip dengan rumah keluarga Cina yang kami datangi.

Ketika para orang tua saling berbincang, kami anak-anak kecil ini berlarian di halaman yang lapang. Kadang main petak umpet, kadang main galasin. Tiba-tiba ada aroma yang menggoda mampir di hidung kami masing-masing. Ternyata, para orang tua sedang mencoba makanan kecil yang disuguhkan oleh tuan rumah. Seperti magnet, kami para anak kecil berlari menuju rombongan orang tua.

Saya tidak tahu apa nama makanan itu. Mungkin pada saat itu tuan rumah memberi tahu apa nama masakannya, tapi mana saya ingat sedetail itu ? Makanan kecil itu begitu menggoda dan masih terbayang sampai sekarang. Kalau coba saya ingat, bentuknya seperti risoles dengan bungkus yang tipis. Mungkin saja dibungkus pakai kembang tahu ? ah mana saya tahu waktu itu apa itu kembang tahu. Dalamnya seperti bahan olahan daging sapi cincang dan sedikit sayuran. Mungkin rada mirip rollade, tapi bukan rollade karena biasanya rollade dagingnya sangat halus, kalau ini tidak halus tapi lembut. Mungkin mirip siomay dengan bungkus kembang tahu, ini baru mungkin, lho. Dengan kulit tipis yang sedikit berminyak,makanan itu kami cocolkan ke dalam saus yang agak encer berwarna merah.

Nah itulah perkenalan saya pertama kali, yang paling saya ingat, dengan masakan Cina. Di lain kesempatan kadang saya suka bertanya kepada ibu saya apakah dia ingat peristiwa itu. Sayangnya ibu saya sudah lupa. Terlalu banyak kejadian,peristiwa,orang-orang yang datang dan pergi dalam hidup kita, memang membuat kita lupa akan satu atau banyak hal. Tapi pengalaman yang berkesan akan mengendap lama dan acap kali ‘pop-up’ begitu saja setelah mendapat trigger-trigger tertentu.

Masakan Cina adalah masakan yang meresap secara tidak disadari menjadi masakan kita sehari-hari. Bawang putih, kecap manis, saus tiram, minyak wijen, kecap asin, minimal bahan-bahan itu ada di dapur ibu-ibu Indonesia. Yang paling simpel tumis bahan masakan dengan saus tiram, minyak wijen dan kecap asin hasilnya dijamin enak. Dengan bumbu-bumbu khas yang sudah dikenal dan diterima oleh orang Indonesia, resto Cina tentunya jadi salah satu pilihan yang selalu dipertimbangkan jika kita mencari tempat makan.

***

 

 

Sejalan dengan cerita tentang perkenalan saya pertama kali dengan masakan Cina, resto yang kami, Indonesian Food Blogger, review kali ini adalah resto Cina dengan nama Master Wok. Master Wok sendiri ada di beberapa tempat strategis di Jakarta, seperti di Lotte Shopping Avenue, Mall Kelapa Gading, Senayan City dan pertengahan Maret 2014 sudah dibuka Master Wok di food court Makan Sutera, Lippo Karawaci. Resto review ini diadakan di Master Wok Lippo Karawaci.

Dengan bumbu-bumbu khas yang sudah dikenal dan diterima oleh orang Indonesia, kehadiran tempat makan Master Wok di beberapa lokasi strategis di Jakarta dan sekitar tentu saja bisa jadi tempat makan favorit.

Ada beberapa alasan lain, selain tempat, kenapa kita memilih Master Wok.

Pertama, Master Wok ini merupakan tempat makan Cina yang menggunakan bahan masakan yang halal. Masakan diproses dengan teknik masak menggunakan wok atau wajan. Biasanya memasak dengan wok memerlukan panas yang sesuai dan proses memasak yang cepat sehingga kualitas gizi makanan tetap terjaga. Dengan proses masak yang cepat , pelanggan akan segera dapat mengambil makanan yang dia inginkan dalam kondisi panas.

Lihatlah , masakan terhidang dalam keadaan masih berasap panas !

Oya, tadi saya bilang pelanggan mengambil makanan ? Iya benar. Ini salah satu alasan kita memilih Master Wok. Dengan konsep all you can scoop kita dapat mengambil sendiri lauk yang kita inginkan. Jangan khawatir sedok yang disediakan untuk mengambil makanan cukup besar , lho.

Karena pilihan menunya banyak, untuk menu yang tidak terjangkau sama tangan kita akan dibantu diambilkan oleh pelayannya.

Dengan pilihan menu sayur dan lauk yang banyak, dijamin kita akan bingung mana yang harus dipilih karena semuanya enak-enak !

Lihat deh sebagian pilihan menunya

Mapo Tahu

Udang Telur Asin yang rasanya mantab, dengan sendok yang disediakan dapat mengambil udang dalam porsi yang banyak. Merupakan salah satu menu andalan Master Wok.

Cammeo Bawang Putih

Tumis Buncis Caipo

Ayam Beijing

Ayam Saus Mentega, dilengkapi dengan setumpuk tomat segar

Terong Tumis Ayam yang laris manis

Selain menu-menu tergambar di atas, ada beberapa menu andalan Master Wok yang perlu dicoba seperti General Tso’s Chicken, Black Pepper Beef, Mixed Veggie. Udang telur asin atau Prawn with salted egg yang seperti di gambar atas juga merupakan menu andalan.

Di Master Wok Lippo Karawaci ada pilihan 12 menu sayur dan 12 menu lauk. Dan sebelum kita terlalu banyak mengambil menu yang disediakan, Master Wok sudah menyediakan paket-paket menu dengan harga yang sangat terjangkau. Dengan pilihan Master Style 1 kita bisa mendapatkan 1 porsi nasi, 1 porsi sayur, 1 porsi lauk ditambah minuman dan pilihan appetizer atau dessert. Paket Master Style 2 kita bisa mendapatkan 1 porsi nasi, 2 porsi sayur. Untuk paket Master Style 3 pilihan berupa 2 porsi lauk dan 1 porsi sayuran. Kedua paket yang disebut terakhir tentunya dilengkapi dengan 1 porsi nasi, minum dan pilihan appetizer atau dessert.

Untuk Appetizer-nya ada beberapa gorengan seperti ini

Pelayan akan mengambilkan sesuai pilihan kita.

 

Kalau ditanya seberapa reasonable-nya harga di Master Wok, untuk Master Style 1 dimana kita bisa dapat nasi, 1 porsi lauk , 1 porsi sayur, satu gelas minum dan pudding kita hanya membayar 27 ribu rupiah. Lumayan, kan ?

Dengan alasan-alasan di atas tentunya nggak heran antrian di Master Wok lumayan panjang.

Setelah mikir-mikir mana yang enak, ini menu makan siang saya, Cammeo Bawang Putih, Enoki Mushroom Tofu dan Udang Telur Asin. Di antara pilihan pudding mangga, pudding melon atau cokelat , saya pilih pudding mangga yang segar.

Saya nggak menyesal dengan menu yang saya ambil karena samuanya enak. Porsi makan sungguh sangat royal. Rasa lauk dan sayurnya enak , tidak mengecewakan. Malah nasinya ternyata kebanyakan ! Jadi kalau ada kesempatan ke Master Wok saya lebih baik memesan ½ porsi nasi.

Khusus di Master Wok Karawaci penyajian makanan menggunakan cara yang unik dibandingkan dengan Master Wok di tempat lain , yaitu menggunakan wok. Lauk dan sayur disajikan menggunakan wok yang besar, sedangkan untuk makan menggunakan wok kecil sebagai pengganti piring. Tentunya ini memberikan pengalaman makan yang berbeda dengan di tempat lain.

 

Weekend ini mau ke Master Wok ? Ayooo … dan ini saya kasih bocoran menu yang akan tayang minggu depan, Udang Madu Jahe. Rasanya mantab. Gurih udang bercampur manisnya madu yang ditimpa rasa pedas segar jahe. Taburan wijen putih membuat penampilan udang goreng madu ini jadi lebih mengoda selera.

Cobain, deh !

The fire is on, the wok is hot, Let’s go to Master Wok !

 

Master Wok

Facebook : Master Wok Jakarta

Twitter : @masterwokjkt

Advertisements

2 thoughts on “Master Wok, The Fire is On !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s