Bolu Marmer Jadul

Membahas sesuatu yang jadul atawa jaman dulu itu memang menyenangkan. Cerita tentang hal jaman dulu yang begitu sengsara seperti, sekolah nggak dikasih duit jajan, jalan kaki ke sekolah padahal metromini juga lewat depan sekolah, dikejar anjing atau dicolek Mariam Blok M, atau berenang ke Bulungan tapi dikasih duit ongkos dan jajannya mepeet banget cuma bisa beli ketoprak dan the botol, pulangnya ngandelin karcis pelajar. Ini baru sedikit contoh. Sengsara , kan waktu ngalamin ?

Sekedar catatan yang jamannya beda satu windu atau satu decade dengan saya, Mariam Blok M syahdan adalah cewe yang (dulunya) cantik terus karena satu dan lain hal jadi agak-agak un-controlled tindakan-tindakannya, dengan kata-kata yang kasar dibilang orang gila ..ups.. Dia beredar seputaran Blok M, dari Pasaraya, tau-tau dia berkelana ke Blok M bagian belakang yang tempat jualan pasar subuh, tau-tau dia ada di terminal, tau-tau dia ke Garden Hall ( uhh… yang ini lebih jadul lagi yaa .. sekarang gak ada, sudah berganti jadi Blok M Plaza). Pokoknya dia muter-muter kawasan Blok M. Kalau sekedar muter aja sih nggak jadi masalah, yaa… tapi masalahnya dia tuh dengan sekonyong-konyong suka megang dada cewe-cewe, terutama yang abegeh. Maless kan kita …dan takut juga .. ha ha …Kalo anak cowo sama dia dikejar dan langsung dicium… Jadi kalau ada Mariam Blok M, cewe-cewe niihh pada teriak dan lari ngumpet. Asal jangan dikejar dan ketangkap aja tuh sama beliau ..bisa jadi kenangan tak terlupakan sepanjang masa. Dikejar orang gila .. ha ha …

Nah kalo tentang karcis bis untuk pelajar, dulu memang pernah ada. Pelajar bisa beli karcis bulanan di Terminal Blok M atau Bank BNI 46 , itu yang saya tau, tapi mungkin ada juga tempat lain beli tiket bis. Saya lupa harganya, tapi di bawah harga normal. Kondektur bis atau metromini harus mau menerima karcis pelajar ini. Jadi kalau kita-kita berdiri bergerombol pake baju seragam sekolah, supir bis suka belaga gak mau berhentiin bisnya. Tapi kalo kita naik di terminal, mau nggak mau mereka harus terima karcis pelajar itu.

Balik lagi ke jaman sengsara, kalau kita cerita-cerita lagi sekarang rasanya begitu ngangenin. Enak banget cerita-cerita jaman dulu sambil tertawa terbahak-bahak. Betapa dulu begitu kaya pengalaman, harus survive di dalam kondisi minimal. Lapar itu biasa, nanti kalau sudah ketemu makanan tentu rasanya jadi luar biasa. Yaa kalau disuruh ngulangin males juga kali.

Kalau masalah makanan jaman dahulu, bolu itu makanan istimewa. Istimewa dalam pengerjaannya, istimewa dalam rasa dan menjadi istimewa karena tidak setiap waktu kita bisa menikmati.

Saya nggak tau jaman sekarang apa masih ada yang ngocok telur 8 butir pakai kocokan telur yang berbentuk spiral itu sampai tinggi mengembang ? Hayo angkat tangan kalau yang masih pake cara ini ! Sekarang kan dengan penemuan abad 20 yang luar biasa yaitu, listrik, semua hal bisa dikerjakan dengan mudah menggunakan listrik. Tinggal beli mixer, colokin, kocok sebentar, jadi deh. Nah dulu tuh yaa sodara-sodara… adik-adikku… anak-anakku pemirsa blog ini yang budiman, nggak ada itu namanya mixer dari Philip, Miyako sampai KitchenAid. Nggak ada karena gak punya yaa … Jadi kalau ada resep bolu yaa dikocok laah manual.

Sebagai layaknya ibu-ibu, sama deh seperti kita-kita sekarang yang suka nyobain resep ini resep itu, ibu saya juga suka nyobain resep. Kalau sekarang kita browsing buat cari resep, dia mengandalkan resep di Femina, buku resep Nyonya Rumah atau bocoran resep dari teman-temannya. Salah satunya ibu saya kerap membuat bolu yang namanya bolu marmer. Kalau kita sekarang jarang ya bilang bolu, bilangnya cake. Whatever whenever, itu sama aja , membicarakan benda yang sama.

Jadi kalau lagi pingin bikin bolu, setelah ibu saya cape ngocok telur , dia dipastikan nyuruh anaknya bantuin ngocok. Lamaa banget sampai adonannya ngembang. Pegel ? Iyaa lahh .. .lha yang pake handmixer sekarang aja pegel megangin, apalagi yang ngocok pake kocokan spiral begitu … Nah, nanti setelah segala prosedur dikerjakan, ibu akan menuang adonan ke loyang dan menggunakan oven listrik yang bentuknya sama dengan loyang, tentu dengan ukuran yang lebih besar. Itu satu-satunya perangkat elektrik yang dipakai di dapur rumah saya pada saat itu.

Setelah sekian lama, setelah adonan mengembang dan ditusuk pakai lidi untuk memastikan apakah bolu sudah matang, ibu akan mengangkat loyang , dan kami, anak-anaknya memandangi setiap langkah pengerjaan, terutama memandangi bolu yang begitu enak dilihat dengan aroma yang memenuhi setiap ruangan di rumah mungil kami. Nggak perlu dipandang terlalu lama, kami lalu menikmati sajian yang jarang-jarang ada di rumah pada saat itu.

Khusus untuk bolu marmer, biasanya saya makan bagian kuningnya dulu, bagian cokelat dan kulitnya disisain untuk dimakan terakhir. Save the best for last.

Postingan ini bukan resep ibu saya. Saya dapat dari browsing-browsing dengan kata kunci ‘cake marmer jadul’. Saya sudah coba 3 resep cake marmer jadul yang beda-beda takaran bahannya. Ini resep terakhir yang saya coba, dimana semua bahan dikocok jadi satu. Selengkapnya begini , ya :

Bahan:

  • 150 gr gula pasir
  • 200 gr terigu
  • 8 btr kuning telur
  • 5 btr putih telur
  • 1 sdt cake emulsifier ß saya tidak pakai
  • 300 gr mentega,lelehkan ß saya pakai 250 gr

Cara membuat:

  1. Campur semua bahan kecuali mentega leleh.Kocok/mixer jadi satu hingga mengental.
  2. Masukkan mentega leleh dan aduk balik.
  3. Ambil sedikit adonan dan beri coklat pasta.Tuang adonan putih kedalam loyang tulban yang sudah dioles mentega dan ditabur terigu.
  4. Kemudian diatasnya tuang adonan coklat secara acak dan buat motif menggunakan garpu.
  5. Panggang dalam oven dengaan suhu kurleb 180 dercel.
  6. Setelah matang,angkat,keluarkan dari loyang dengan cara membaliknya.Dinginkan,siap disantap.

Saya ambil dari blog http://jossie-cintamasak.blogspot.com/2013/02/bolu-marmer-jadul.html

Untuk adonan cokelatnya sengaja saya banyakin. Saya tidak pakai pasta cokelat, tapi pakai cokelat bubuk. Lalu selain cokelat bubuk, saya juga tambahkan satu sachet kopi Nescafe original. Tapi sepertinya kalau dikasih 2 sachet akan lebih nendang.

Silakan ya, teman-teman yang ingin merasakan suasana jaman dahulu dengan menyajikan cake marmer buat keluarga. Enak, deh. Cocok dimakan dengan ditemani kopi pahit, sayangnya saya nggak minum kopi. Tapi pakai susu putih plain juga enak, lho.

Tinggal kita korek-korek lagi ingatan masa lalu, dengan sound track lagu lama yang masih terdengar indah syair dan nadanya.

Advertisements

5 thoughts on “Bolu Marmer Jadul

    • Mas Bud,thanks yaa sudah mampir dan kasih comment . Kadang-kadang saya kangen juga datang ke masa kecil yang begitu menyenangkan 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s