Dari Kelas Workshop Food Photography

Sabtu hari kemarin udara begitu enak setelah hujan semalaman disusul oleh rintik gerimis yang membuat bertambahnya cipratan-cipratan tanah di teras depan rumah. Bau tanah yang terangkat dilengkapi aroma daun-daun di kebun yang bergoyang-goyang menahan tetesan gerimis menjadi ingredient  terhidangnya pagi hari yang nyaman dan sayang untuk dilewati dengan tergesa-gesa. Nyaman sekali kalau kita tarik selimut, tapi eiiitttt ….. kalau selimut semakin ditarik. para penghuni rumah pasti teriak kelaparan .. ibuu lapaarr..hu hu hu …

Yaa jadi lupakan romantisme gerimis di pagi hari. Anak-anak yang kelaparan musti dibuatin makanan. Kakak yang mau futsal juga harus di-‘oprak-oprak’ supaya siap-siap. Dan, semua harus siap sebelum jam 8 karena hari ini saya ada janji ikut kelas food photography .. cieee …

Selama ini urusan foto-foto saya seratus persen otodidak. Belajar dari manual book kamera jadul Olimpus sejak jaman dulu kala. Sempat ngoprek gimana lensa bisa diatur bukaanya sehingga mempengaruhi banyak sedikitnya cahaya yang masuk. Pengaturan aperture kamera jaman dulu ada di lingkaran lensa. Kita mau nilai aperture kecil atau besar tinggal diputar. Pada saat memutar gelang aperture kita bisa lihat membesar dan mengecilnya bukaan lensa. Itu pelajaran pertama saya tentang kamera. Selanjutnya, ilmu yang lain-lain mengalir begitu saja, semengertinya, sepakainya kamera, sepuasnya  atau tidak puasnya saya sama hasil.

Kalau jaman dahulu (oooemmjeeyy … gue orang jaman dulu … ) .. saya berlatih masukin film gimana supaya film yang diklaim 36 frame bisa untuk motret sampai 40 kali pada prakteknya … setidaknya 39 kali. Ada tekniknya tuh … he he … Oya , kalau beli film kita harus tentukan film untuk ISO berapa. 100 yang umum, semakin banyak nilai ISO semakin mahal harga  filmnya. Karena frame terbatas, mangkanya ngebidiknya juga pilih-pilih. Biasanya saya beli film merk Kodak dan Fuji yang beredar banyak di mana-mana. Kalau sedang iseng main ke Sabang, saya beli merk Agfa.

Dengan segala keterbatasan kamera manual justru banyak ilmu dan ketrampilan yang didapat. Kamera digital sekarang bukan main begitu canggihnya jadi bikin kita malas utak-atik, hasil sudah dijamin oke dengan mode otomatis apapun jadi. Nggak mikir sudah abisin berapa frame, yang penting card memory mencukupi.

Nah itulah dia yang bikin saya ‘melupakan masa lalu’, selalu mode otomatis, atau mode siap pakai yang sudah tinggal pilih.

Buat nge-refresh ingatan, buat tahu apa yang up to date di dunia photography khususnya  food photography, dan buat sosialisasi sesama penghoby, jadilah saya ikutan workshop FP. Disamping itu juga menurut saya, foto-foto saya kok rasanya gak begitu menggugah selera amat, agak-agak cemplang gitu, sepertinya perlu pasokan ilmu baru. Workshop   dibawain sama Riana, inspirator saya di bidang moto-motoin makanan.

Setelah segala urusan di rumah beres, saya jalan ke lokasi  workshopdi di BirdCage Café Jalan Wijaya. Berhubung lewat jalan yang tidak biasa saya lewati, saya tanya-tanya arah lokasi sama tukang ojek yang kemudian bilang , oo itu restoran sangkar burung depan smp 12 ! Belok kiri dan kiri … Sipppp …

birdcage 1

Tempatnya cozy banget. Sesuai namanya, café dihiasi dengan beberapa sangkar burung. Nggak ada burungnya,mungkin nggak mau resiko bersihin kotorannya Smile. Jadi untuk mengisi kekosongan, para sangkar burung diisi dengan lampu. Jadi cantik, deh.

birdcage 2-1

Sempat ngintip dapurnya

FFIMG_4265-20121104

Ada mesin tik tua a s d f g l k j h

FFIMG_4263-20121104

Bisa duduk-duduk di terasnya yang nyaman. Kayaknya ini lokasi strategis guru-guru SMP 12 yang lagi liatin muridnya tawuran …lhoo !

FFIMG_4295-20121104

Nomor telpon reservasi. Walah, gue udah kayak PR Bird Cage SmileFFIMG_4269-20121104

Peserta workshop kebanyakan ibu-ibu lhoo … tapi ada juga mas-mas yang ikutan. Begini suasana workshop.

workshop 1

Untuk kegiatan workshop-nya, peserta dipersilakan mempraktekkan teori yang sudah dibawakan oleh Mbak Riana. Untungnya, ‘sang foto model’ yaitu para makanan/minuman/cake  sudah diatur dengan cantiknya oleh food stylist, Mbak Nadrah dan Mbak Citra. Kalo enggak, kayaknya fotographer-nya yang bakalan mati gaya, abis foto modelnya nggak bisa disuruh gaya sendiri.

Ini hasil foto-foto makanan.

FFIMG_4246-20121104

 

FFIMG_4251-20121104

kue11

FFIMG_4236-20121104

Terakhir adalah foto bersama. Berhubung saya ada di antara peserta yang mau difoto, jadi ngambilnya dari samping.

FFIMG_4260-20121104

Nah, setelah ikutan kelas ini, nggak lagi ya pakai mode Auto. Coba putar ke Manual. Atur aperture , time dan ISO. Setelah itu atur white balance. Coba cari pencahayaan yang bagus. Lalu, coba terus ambil gambar. Anonymous berkata, Once photography enters your bloodstream, it’s like a disease.

Jangan minder kalau cuma punya kamera HP, setidaknya kita sudah punya HP yang ada kameranya Smile.

It’s not the camera, but who’s behind the camera. -Anonymous

Advertisements

6 thoughts on “Dari Kelas Workshop Food Photography

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s