Sunday Muffin – Sunday Learning

Tulisan ini saya baca di ruang kelas sekolah Fachry, anak saya :

KITA BELAJAR :

  • 10% dari apa yang kita baca
  • 20% dari apa yang kita dengar
  • 30% dari apa yang kita lihat
  • 50% dari apa yang kita lihat dan dengar
  • 70% dari apa yang kita katakan
  • 90% dari apa yang kita lakukan

(Vernon A Magnesen)

Kali ini saya fokus di muffin. Setelah peristiwa ‘oven-loyang yang tidak compatible’, saya penasaran buat muffin, setidaknya coba sekali lagi deh sebelum bikin yang lain. Saya nggak harus beli loyang muffin baru, atau malah beli oven baru, karena saya teringat jaman dahulu kala pernah beli cetakan bolu kukus dan belum pernah dipakai sama sekali. Rasanya cetakan muffin bisa diganti dengan cetakan bolu kukus.

Cuma kalau pakai cetakan bolu kukus, kertas alasnya harus menutupi lobang-lobang yang ada di samping cetakan. Kalau engga, adonan bisa luber keluar.

Saya banyak browsing hal mengenai muffin. Saya browsing blog-blog ibu-ibu yang rajin banget masak. Ternyata, buwanyak buwanged ibu-ibu dan mbak-mbak yang doyan masak, bisa photography (minimal punya camera digital), bisa nulis dan punya blog. Itu butuh effort yang bukan main ( ehem… bukannya ngomongin diri sendiri, kok ). Dokumentasi dari ibu-ibu itu sangat berguna buat saya yang pemain baru ini. Saya juga browsing site yang berhubungan dengan makanan, seperti site Bogasari, TBK Titan juga Wilton, nggak lupa ke site acara favorit Asian Food Channel.  Tapi menurut teori Vernon A Magnesen, saya baru belajar 10%, whaterver.

Saya pakai resepnya Ruri. Di resep Ruri disebutkan kalau dibutuhkan panas 160 derajat celcius dan waktu 25 menit untuk meng-oven muffin.  Lain hal, di Bogasari Cooking Class tips disebutkan untuk menghasilkan muffin yang pecah/merekah diperlukan waktu hanya 25 menit dan suhu oven 200 derajat celcius untuk mematangkan muffin. Jika tidak, maka muffin tidak akan pecah/merekah. Hmm … perbedaan 40 derajat celcius itu saya pikir bukan hal yang dianggap remeh.  Seperti menggigil membeku kedinginan di Kutub utara pada saat nol derajat celcius dibandingkan dengan panas garing menyengat di India pas 40 derajat celcius. Bukan, begitu ?

Saya tetap pakai resep Ruri. Rebus butter yang dikasi garam dan air, dan angkat setelah mendidih. Lalu

 masukkan sedikit sedikit ke baskom yang sudah diisi terigu. Lalu kocok. Ikuti aja langkah-langkah yang sudah ditulis Ruri. Setelah adonan rata, saya masukkan ke cetakan bolu kukus yang sudah dialasi kertas kue. Adonan saya masukkan kira-kira 3/4 dari tinggi cetakan. Dapat 24 buah cetakan.  Di 12 cetakan pertama yang masuk oven,  saya beri beberapa butir cokelat chip di atasnya. Cantik sekali.

Perihal suhu oven, saya nggak ikutin Ruri, saya ikuti caranya Bogasari. Benar juga, pada menit ke 10 saya lihat adonan mulai naik sedikit demi sedikit hingga tingginya 2 kali dari tinggi adonan yang saya masukkan tadi. Fuii … sukses nih kayaknya gue.

Tapi, selalu ada tapinya, saya kok ingetnya waktu yang dibutuhkan Bogasari 45 menit.  Ngga tau dapat angka 45 dari mana. Menit ke 25 muffin sudah keliatan semburat coklat. Daripada gosong nungguin 15 menit lagi, muffin saya angkat di menit ke 30. Jadi juga ini muffin, meski setelah saya lihat bagian bawahnya agak-agak cokelat tua tanda menuju ke arah gosong. Baru setelah lihat lagi catatan Bogasari ternyata saya salah mengingat.

Adonan  ke 2 saya kasih cokelat chip ke dalamnya. Sedangkan bagian atas saya kasih cokelat warna warni (lupa namanya apa). Nah, pada pembakaran ke-2 saya ikutin caranya Ruri. Oven saya pasang di suhu 160 derajat celcius. Menit ke-10 belum ada pergerakan apa-apa, tapi terus naik dikit-dikit sampai tingginya menyamai muffin tahap pertama. Setelah 25 menit  api kompor saya matikan.

Kemudian saya bandingkan hasil muffin tahap pertama dan tahap ke dua. Muffin tahap pertama tingginya dua kali dari tinggi adonan ketika belum matang. Bagian atasnya merekah pecah keren. Cuma garing karena kelamaan di oven.  Sedangkan muffin tahap kedua tingginya dua kali dari tinggi adonan ketika belum matang. Dari duabelas cetakan cuma ada dua muffin yang bagian atasnya merekah pecah.

Menurut saya, yang cocok sama oven saya, untuk mematangkan muffin dengan diameter cetakan sekitar 5 cm dibutuhkan panas 200 derajat celcius dan lama waktu 25 menit. Sama dengan punyanya Bogasari.

Soal rasa, pada bilang enak, sih. Takut nggak dibikinin kue lagi kali … Hehehe …. Kalau mau bikin resep Ruri lagi mungkin gula pasirnya saya kurangi jadi 200 gram saja, supaya nggak terlalu manis.

Dari apa yang saya lakukan minggu pagi itu, saya merasa benar juga teori Mas Vernon A Magnesen. Rasanya saya belajar jauh lebih banyak bagaimana berhasil membuat muffin daripada sekedar membaca resep di web atau melihat muffin di etalase toko kue.

Upppss… tapi bukan berarti kita cuma perlu praktek aja buat belajar sesuatu yaaaa. Jangan sampai salah menterjemahkan. Membaca itu perlu. Dengan membaca kita tahu ilmunya. Melihat juga perlu dong, biar kita tahu referensi muffin yang layak ditampilkan itu seperti apa. Semuanya disempurnakan dengan praktek, agar kita tahu bahwa ada hal tak tertulis yang hanya bisa ditemui pada saat praktek. Pada saat praktek kita bisa kalibrasi ukuran-ukuran yang cocok buat kita, yang bisa jadi tidak sama dengan resep generik.  Apa ini berlaku cuma buat muffin saja ?  I don’t think so.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s