Titan – Melongok Ke Masa Lalu

Bayangkan kawasan Jakarta Selatan tanpa jalan arteri TB Simatupang. Bayangkan kehidupan dengan suasana yang teduh dengan pohon-pohon rindang serta aliran jernih anak sungai Krukut diiringi semilir angin. Serasa bukan di Jakarta yang sekarang, kan ? Tapi itu pernah terjadi, dan saya pernah jadi saksi kehidupan macam begitu di lokasi yang sekarang disesaki oleh toko-toko, bengkel, pom bensin, restoran, tukang jahit, warung dan sebagainya, serta asap-asap dari kendaraan yang berseliweran di jalan arteri.

 

Ketika jalan arteri TB Simatupang ada, maka terjadi perubahan besar bagi warga sekitar dalam berpergian. Jalan itu begitu memudahkan mobilitas warga. Pohon-po hon di pinggir jalan yang dibiarkan tumbuh masih meninggalkan jejak-jejak kehidupan masa lalu yang teduh. Segala komersialisasi tempat dan asap-asap kendaraan adalah bentuk konsekwensi dari pembangunan di kawasan itu.

Bagi kami yang tinggal di kawasan itu, jalan TB Simatupang menjadi back-up jalan Fatmawati, atau malah kebalikannya. Malah warga mulai meninggalkan akses lewat jalan Fatmawati, karena jalan menuju jalan TB Simatupang lebih dekat. Setidaknya, jalan Fatmawati yang padat mulai membagi beban dengan jalan TB Simatupang. Mereka saling me-redundant.

Ketika belum ada jalan arteri TB Simatupang, bila berpergian ke Taman Ria atau ke rumah saudara, kami sekeluarga harus jalan dahulu ke jalan Fatmawati. Perjalanan menuju jalan Fatmawati dari kompleks kami bukan perjalanan yang mudah dan singkat, apalagi buat saya, kakak dan adik yang usianya sekitar 4 sampai 8 tahun waktu itu.

Pertama kami musti dandan dulu. Artinya, kami pakai baju bagus, kaos kaki menutupi betis dan sepatu yang sudah disemir mengkilat. Itu saja sudah bikin gerah. Apalagi kalau pas didandani dengan baju berrenda-renda. Kemudian setelah semua siap , pintu rumah sudah dikunci semua dan lampu depan dinyalakan karena bisa jadi pulangnya kemalaman, berangkatlah kami beriringan berjalan menuju jalan Fatmawati. Ibu tidak lupa membawa bekal buat di jalan.

Keluar kompleks kami melalui jalan kampung yang belum diaspal atau disemen sekalipun. Benar-benar masih tanah padat. Kami melewati rumah-rumah kontrakan petakan tiga ruang, rumah-rumah asli betawi juga  kandang ayam. Kadang-kadang ada bekas ampas parutan kelapa yang dibuang sembarangan di jalan. Kelak, jalan tersebut sekarang masih ada tapi sudah berdiri rumah-rumah permanen dan mewah.

Kalau hari panas, tidak jadi masalah. Karena rindangnya pohon rambutan, cempedak serta kecapi menghambat sinar matahari membakar kulit kami. Meski begitu, kami bertiga masih diperlengkapi dengan topi anyaman yang dibeli di Kebun Binatang tempo lalu.

Masalahnya kalau masih berjalan di kawasan perkampungan itu, tiba-tiba turun hujan. Ah, kebayang kan.Jalanan jadi becek. Sepatu kami penuh dengan lumpur.  Mau pulang susah, mau terus jalan juga susah. Kalau sudah begitu, kami lari ke pinggiran rumah orang untuk berteduh. Untungnya rumah-rumah di situ jarang yang pakai pagar. Pernah ketika hujan turun dengan derasnya dan lama, ibu mulai membuka bekal. Kamipun makan di teritisan rumah orang itu.

Setelah melewati perkampungan, melalui sebuah pintu kecil  kami masuk ke kompleks bank yang pemandangannya sangat kontras dengan perkampungan yang barusan kami lewati. Jalan di kompleks bank itu lebar-lebar dan diaspal mulus. Rumahnya juga besar-besar tidak berpagar , sebagai gantinya ada halaman luas dengan rumput hijau yang terawat.

Biasanya kami bertiga berlarian menikmati jalan yang lebar dan pemandangan yang menyenangkan mata itu. Apalagi kalau musimnya datang, bunga-bunga kertas yang ditanam sepanjang jalan bermekaran.Bagus sekali.

Kami berjalan di kompleks itu sekitar seratusan  meter hingga sampai di gerbang utama. Tapi perjalanan belum selesai. Kami menyelusuri lagi satu blok rumah-rumah petak dengan gang selebar satu meteran.

Kemudian kami melewati kebun yang biasa ditanami timun suri, atau biasanya kita sebut timun kesuri, makanan pembuka waktu puasa. Di kebun-kebun itu, jika kita melihat ke arah selatan akan terlihat sebuah puncak gunung. Katanya sih Gunung Salak. Saya sih dulu percaya aja kalau itu Gunung Salak. Sekarang ya ngga bisa lah kita dapati pemandangan seperti itu. Palingan kelihatan puncaknya antene di Citos. Oh ya, jalan yang kami lalui itu namanya Gang Ceremai

Hingga tiba kita di jalan Fatmawati.Perkiraan jalan yang kita tempuh sekitar 2 km kurang. Bukan main ya perjalanan menuju pos pertama untuk dapat naik bis, yang namanya Bis GAMADI. Trayeknya dari Pondok Labu ke Blok M. Dari situ kami bisa pergi ke mana saja.

Itu cerita jaman dahulu kala, yang tiba-tiba pop up ketika saya tiba di toko bahan kue Titan.

***

Beberapa minggu yang lalu saya sms-an dengan Denoy soal per-kue-an. Nara sumber saya itu juga kasih tau ada toko kue di daerah Fatmawati. Katanya, ” Elu keluar tol trus belok kiri, nah sebelum BanjarSari ada tuh sekitar situ toko bahan kuenya”. Ah kalo cuma daerah situ aja ga tau keterlaluan deh, secara saya memang besar di daerah sana.

Hari sabtu ketika mau pergi ke rumah Eyang, saya sengaja lewat Pondok Indah terus keluar di jalan TB Simatupang, belok kiri di jalan Fatmawati. Setau saya sih, ga jauh dari situ Banjar Sari.  Saya jalanin mobil pelan-pelan. Tapi kok ngga ada ya  TBK itu.

Lewat Banjar Sari, lewat kompleks Keuangan, lewat Pizza hut, lewat Pasar Mede, masih ngga ada juga. Tinggal satu blok pertokoan lagi yang belum saya lewati sebelum ketemu Rumah Sakit Setia Mitra. Pelan-pelan saya perhatikan nama-nama toko di situ. Dan … ternyata di pojokan blok pertokoan yang terakhir saya menemukan TBK Titan.

 Ternyata Titan  ada di depan Gang Ceremai !  Ternyata lokasi Titan itu nggak jauh-jauh dari masa kecil saya.

* foto saya ambil dari website Titan http://titanbaking.multiply.com/photos/album/4/Bunga_Gum_Paste#4

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s