New York Style Cheesecake

 

Pagi ini sepotong New York Style Cheesecake lumer di mulut saya dan tanpa proses mengunyah. Saya hanya membuat gerakan menekan langit-langit dengan lidah  kemudian cake lezat itu dengan mudahnya saya telan.  Kenikmatnya dilengkapi dengan posisi duduk yang bersandar di sofa empuk sembari nonton Desperate Housewife.

 

Lihatlah teksturnya yang lembut. Ah apalagi kalo sudah sampai di mulut. Rasa keju yang ringan, manisnya pas disertai semburat rasa lemon yang menyegarkan. TOBBGT deh pagi ini.

 

Semua dimulai dari kegagalan pertama saya membuat cheesecake.  Ini adalah kali ketiga saya bereksperimen dengan cheesecake, dengan tiga jenis resep yang berbeda. Tapi semua adalah resep cheesecake.  Proses yang ketiga ini berlangsung dengan mulus, dari pemilihan bahan, cara pengerjaan hingga tersaji seperti di foto. Ngga ada rekayasa apa-apa untuk menghasilkan gambar yang menggiurkan itu. Saya cuma potong cheesecakenya, saya taro di piring, kemudian  saya fotodengan SonyEricsson K800.

 

Saya cuma belajar dari kegagalan sebelumnya. Intinya adalah pertama kita harus memilih bahan  cake yang tepat, karena biasanya di resep cuma mencantumkan nama generiknya. Seperti butuh 500 gr cream cheese. Nah, saya yang biasa makan tempe gini kan kesulitan cari cream cheese maksudnya yang mana. Pikiran saya selalu tertuju sama cream cheese dari Kraft yang suka dipake oles-olesin roti. Saya salah, karena cream cheese Kraft itu asin banget. Hancur rasa cheesecake pertama dan kedua saya.Uh padahal harganya mahal banget.

 

Saya emang ngga ikutan milis masak macem NCC atau Dapur Bunda (nanti saya cerita kenapa), jadi saya ngga ada referensi cream cheese yang dipakai yang kayak gimana. Selang antara bikin cheese cake kedua yang gagal itu dengan cheese cake ke tiga ini ada kali enam bulanan, sampai saya nemu merk Philadelphia di Carrefour Duta Merlin.

 

Juga contohnya di resep-resep sering ditulis bahan yang dibutuhkan : 500 cc cream segar. Nah lo, cream apaan coba ? Yang familiar sih, susu segar. Apa sama ? Untungnya di resep yang saya buat ini ditulis sour cream atau krem asam.  Cream ini saya dapetin di Hero Menteng. Pas tinggal dua pack isi masing-masing 200 ml. Padahal di resepnya 500 ml. Ya sudah lah, konsekwensinya paling adonan berkurang 100 ml …hehehe…

 

Kedua, apabila kita nggak punya bahan yang tertera di resep, maka bisa disubtitusi dengan bahan lain. Nah, untuk memilih bahan pengganti , kita musti tahu bahwa karakteristik bahan yang diresep dan bahan pengganti harus sama.  Kalo engga, mungkin hasilnya jadi terlalu kreatif, beda sama sekali dengan resep asli. Contohnya kayak cream tadi. Coba kalo saya ganti sama susu segar, aduh saya ga tau jadinya kayak apa karena tekstur dan bahan keduanya bedaa banget, meski sumbernya sama-sama dari susu.

 

Ada lagi yang namanya gelatin. Info tentang gelatin bisa dilihat di http://www.halalguide.info/content/view/516/38/ dan http://en.wikipedia.org/wiki/Gelatin . Jadi kalo beli gelatin, untuk muslim pastiin bahan yang digunakan membuat gelatin adalah yang halal.

 

Gelatin akan meleleh jika dipanaskan dan mudah menjadi padat bila didinginkan. Waktu membuat cheesse cake pertama, saya nggak pake gelatin karena pertama informasi gelatin yang saya terima masih simpang siur kehalalannya, juga karena saya nggak tau cari gelatin di mana. Akibat ngga pake gelatin,  cheesecake pertama saya itu gatot, alias gagal total ga bisa berdiri, mirip bubur bayi umur 3 bulan.

 

Dari beberapa sumber saya dapatkan bahwa gelatin bisa disubtitusi dengan agar-agar. Minimal biar cake bisa berdiri. Yang ini saya belum coba.

 

Hal ketiga yang musti diperhatikan  adalah perlengkapan masak yang dipakai.  Untuk membuat cheesecake , loyang yang dibutuhkan adalah loyang bongkar pasang. Biasanya loyang ini dipakai untuk cake yang nggak mungkin dibalik setelah jadi.  Untuk menggunakan loyang ini harus hati-hati supaya adonan tidak keluar melalui pinggiran loyang. Biasanya bagian luar loyang dibungkus dengan kertas alumunium.

 

Tapi saya ngga pake loyang bongpas ini, karena kayaknya ribet suribet. Saya taro adonannya di loyang kaca tahan panas. Ringkes, nggak perlu pindah-pindahin cake. Kalau mau makan tinggal iris aja. Hal lain, karena emang saya ngga punya loyang bongpas … he he he …. 

 

Berbekal dari segala kegagalan, resep ketiga yang saya ambil dari website favorit saya di http://pennylanekitchen.blogsome.com/2005/08/03/newyork-newyooooork/  saya buat dengan mudahnya. Tapi ternyata emang gampang kok. Gampang kalau sudah tau.

 

Tapi sebenernya ada masalah kecil sih. Ketika adonan sudah masuk oven, Afif bangun dan ngajakin main di tempat tidur. Untung saya segera sadar masih punya tanggungan di dapur, meski kelewat 10 menit dari waktu pembakaran cake. Pinggiran cake ada sedikit efek coklat muda menuju gosong , dan bagian atas cake menguning. Cheesecake ketiga ini nyaris gagal !

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s